konsumsi makanan organik turunkan risiko kanker

konsumsi makanan organik turunkan risiko kanker
konsumsi makanan organik turunkan risiko kanker

Sebuah riset terbaru mengejar hubungan antara konsumsi makanan organik dan risiko kanker. Tim peneliti dari Prancis menuliskan bahwa makanan organik lumayan efektif dikonsumsi untuk menangkal penyakit kanker.

Sebelumnya terdapat kekhawatiran yang berkembang mengenai paparan sekian banyak jenis pestisida dari pertanian. Dampak dari senyawa itu pada tubuh insan masih belum dicerna dengan baik. Tapi, ada sejumlah indikasi bahwa efek racun bisa terjadi bahkan pada fokus rendah.

Sementara itu, didorong oleh masalah lingkungan dan kesehatan, pasar makanan organik terus berkembang pesat. Makanan organik diproduksi tanpa memakai pupuk sintetis, pestisida, organisme hasil rekayasa genetika, dan pemakaian obat-obatan hewan.

Makanan organik dan penurunan risiko kanker

Makanan organik ingin tidak berisi residu pestisida daripada makanan konvensional, dan riset telah mengindikasikan bahwa diet makanan organik meminimalisir paparan pestisida tertentu. Julia Baudry, pengarang utama studi dari Pusat Penelitian dalam Epidemiologi dan Statistik di Perancis, mengatakan untuk Newsweek.

“Pada populasi yang diteliti, penyampaian (pestisida) terjadi sebab makanan sehari-hari, khususnya asupan buah dan sayuran yang ditanam secara konvensional. Namun, sejumlah studi telah menganalisis konsumsi makanan organik berfungsi menurunkan risiko kanker,” lanjut Baudry.

Untuk riset ini, yang diterbitkan dalam jurnal JAMA Internal Medicine, kesebelasan peneliti mengecek data mengenai frekuensi konsumsi makanan organik selama 68.946 orang dewasa di Prancis pada tahun 2009. Untuk masa-masa tindak lanjutnya rata-rata ialah sekitar 4,5 tahun kemudian.

Hasilnya, peserta mengadukan bahwa mereka paling jarang mengonsumsi 16 jenis makanan organik. Makanan yang dimaksud ialah buah-buahan, sayuran, produk susu, daging dan ikan, telur, biji-bijian, tepung, minyak nabati dan bumbu, gula, sampai suplemen makanan.

Para peneliti lantas menggunakan informasi ini guna menghitung skor makanan organik antara 0-32 poin, dengan angka yang lebih tinggi mengindikasikan konsumsi makanan organik yang lebih besar. Mereka meneliti penurunan yang signifikan dalam risiko kanker salah satu para peserta yang teratur mengonsumsi makanan organik.

Selama masa penelitian, semua peserta mengembangkan total 1.340 jenis kanker. Akan tetapi, orang-orang yang mengonsumsi makanan organik mempunyai risiko 25 persen lebih rendah terpapar kanker.

“Dalam populasi 68.946 orang dewasa di Prancis, kami mengejar pengurangan 25 persen risiko kanker salah satu konsumen dengan frekuensi makanan organik yang tinggi dikomparasikan dengan konsumen dengan frekuensi rendah, sesudah memperhitungkan hal pembaur, seperti hal gaya hidup, diet, dan sosiodemografi,” ungkap Baudry. Menurutnya terjadi penurunan risiko penyakit kanker selama 34-76 persen guna kanker payudara pascamenopause dan kanker limfoma.

Masih perlu riset lebih lanjut

Namun, riset ini memiliki sejumlah keterbatasan. Sebab, tidak ada benang merah yang bisa ditarik dan secara definitif menghubungkan santap makanan organik dengan penurunan risiko kanker.

“Konsumsi makanan organik susah untuk dinilai. Sebab, pelaporan setiap pribadi rentan terhadap kekeliruan pengukuran. Meskipun frekuensi makanan organik dalam riset kami dikoleksi menggunakan kuesioner eksklusif dengan data yang lebih tepat daripada studi sebelumnya, data konsumsi kuantitatif yang ketat tidak tersedia,” Buadry menjelaskan.

Kini, menurut keterangan dari Baudry, tahapan selanjutnya ialah menyelidiki efek jangka panjang. Ini bersangkutan dengan sesuatu yang direncanakan sebagai unsur dari tindak lanjut berikutnya.

Elina Hypponen dari Institut Penelitian Kesehatan & Healh Australia Selatan, yang tidak tercebur dalam makalah itu, menuliskan dalam suatu pernyataan, “Penelitian ini mengindikasikan bahwa memilih produk organik sebagai unsur dari borongan diet sehat mungkin menolong mengurangi risiko kanker. Namun, ada sejumlah masalah metodologis dengan riset ini yang membuat benang merah menjadi sulit.”

Seperti yang diharapkan, peserta yang mengonsumsi makanan organik, rata-rata berpendidikan lebih baik, mempunyai pendapatan yang lebih tinggi dan pun gaya hidup yang lebih sehat.

Lebih lanjut, Hypponen menulis bahwa makanan organik tersebut mahal dan tidak bisa diakses oleh seluruh orang. Hal berikut yang turut mengakibatkan orang mengonsumsi buah dan sayuran. Padahal, dua-duanya adalahsumber nutrisi penting, tergolong antioksidan dan serat. “Konsumsi buah dan sayuran secara borongan baik guna Anda, organik atau tidak,” tutupnya.

Konsumsi buah dan sayuran secara borongan baik guna Anda, baik organik atau tidak. Jadi, walau tak terdapat makanan organik, bukan berarti kita tak dapat menjalankan gaya hidup sehat. Tetaplah mengonsumsi asupan sehat dan teratur berolahraga, serta hindari cerutu dan alkohol, supaya terhindar dari penyakit kanker.